Romansa Sudut Jogja

Kamu pasti tau, kesyahduan ketika pertengahan menjelang bergantinya bulan dengan matahari. Yap benar, Malam !! Aku selalu suka malam, ketika sebagian jiwa-jiwa didunia ini telah terbius dengan kepekatannya. Mengarungi wahana mimpi yang bebas tak terbatas. Sunyiii.. benar-benar sunyi, hingga denting jarum dom yang biasa dipakai ibu tuk merajut kain yang usang, jatuh diantara sela-sela keramik mampu terdengar bak suara jeritan. Tapi sayang sekarang ibu tak bersamaku.
Ah memang sudah biasa ketika kamu membaca tulisan yang mengulas keromantisan malam. Biarlah, aku tak peduli !! Barangkali ini tulisanku seperti judul buku karya Deassy destiani, "Bukan untuk dibaca". Sudahlah,biarkan aku menulis karena sekarang aku tak ingin membahas itu.
Kau tau, malam ini spesial. Langkah jemariku diatas keyboard ditemani dengan luruhnya hujan. Duh sungguh, sangat mendamaikan, bau tanah itu aku kenal sekali, ia memiliki aroma khas, seakan aku terbawa ke memori antara hujan dan aku saja.
Berbisik dibenakku, mengingat halaman berapa buku yang aku baca "Hujan bulan juni" oleh Sapardi Djoko Damono, yang membuatku gemas dengan pertanyaan yang sama. Menurut teori, bulan juni termasuk musim kemarau, jadi hujan tak akan datang menyirami bumi ini. Jika begitu, aku harus mampu untuk menahan rinduku bersua dengan gerimis yang romantis, tapi kali ini hujan itu, gerimis itu, seakan memberi harapan yang telah terpendam dan berusaha aku sirnakan. Kau tau, harapan itu tumbuh.
Sayangnya tidak tumbuh dengan baik-tidak lebih dari 5 menit hujan itu kembali pergi seakan tak berdosa meninggalkan perasaan yang baru berbunga, menghanyutkan segala asa yang mulai ada. Kemudian perlukah aku berharap hujan kembali? aku tak sudi jika begini!
-Dengkuran Malam-
Sepucuk romansa sudut jogja
23/06/2016
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Berdiskusi dengan buku !
Ia, terlihat membosankan dan menjenuhkan. Padahal ia memiliki sifat adiktif yang memberikan sensasi ketagihan ketika seseorang mulai menjamah lembaran-lembaranya. Huruf demi huruf, mengindikasikan kedalaman hati penulis. Sedangkan isinya ialah cara terbaik penulis untuk mendiskusikan pemikiranya dengan pembaca. Ah sungguh! disisi itu, ia selalu mengusik kesenyapan dan kehampaan. Seakan-akan, pemeran-pemeran dalam buku menjelma hidup disekeliling kita. Ah.. lagi-lagi aku tertawan dan tergoda untuk menyelesaikan bagian akhirnya, rasanya ada kepuasan sendiri ketika aku bisa bernostalgia dengan alur cerita yang seringkali perah kita rasa. Ah!! benar-benar aku jatuh cinta, dengan ia yang menasehatiku tanpa menggurui, ia yang menjadi teman dalam kehampaan. Ia penggenggam ilmu yang mulai terlupakan waktu demi waktu. Ia ialah Buku.

22/06/2016
-Romansa Sudut Jogja-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pertanyaan inilah yang seringkali kita lupakan. Entah mungkin memang sifat dasar manusia yang hakikatnya membutuhkan orang lain atau ia mengutuk dirinya untuk tidak mempedulikan isi hatinya. Sering kali kita menjumpai pertanyaan yang kita sampaikan kepada orang lain, sebenarnya kita mengetahui jawaban tersebut. aaah...lagi-lagi kita membutuhkan orang lain, untuk mengatakan jawaban tersebut tepat didepan wajah kita.
Ada beberapa orang yang seringkali menanyakan apa kiat-kiat menjadi sukses? bagaimana caranya? apa yang harus dilakukan? bagaimana membagi waktunya? di tiap-tiap kesempatan entah di pengajian, workshop, diskusi, sharing dll.. Sebenarnya mereka tau jawabannya, (Ya, saya yakin itusmile emotikon ) hanya berat menerapkannya. I Inilah bagian yang cukup menarik bagi saya!!! I Karena bicara tentang kesuksesan, bagi saya tidaklah mudah, I Kesuksesan bukan hanya tentang disiplin ilmu ekonomi dan usaha yang kita miliki I Tapi konsep mengenal Allah adalah dasar dari kesuksesan yang hakiki I Kenalilah Allah, maka kita akan mengetahui cara merayu Allah I Dari sinilah kita akan mengetahui bagai mana kita harus meniti jalan kesuksesan hidup ini.
**Semangat sampai akhirat**
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bagi orang over convident, dia akan menilai apa yang telah dia lakukan sesuai dengan standar dia, merasa pantas dan cenderung mengesampingkan orang lain. Padahal dia tidak pernah tau apa yang dilakukan orang lain. Hal seperti ini yang perlu mereka persiapkan sebelum menerima hasil akhir ialah "Mempersiapkan kegagalan".
Sedangkan bagi orang yang memiliki kecenderungan feel inferior, dia akan menilai dirinya sangat rendah dibandingkan orang lain, dia akan merenungi kekurangannya dan tidak mau mencoba hal baru. Maka yang perlu dia siapkan ialah mental juara untuk mempersiapkan kemenangan.
Pada intinya, alangkah baik ketika kita memahami karakter diri sendiri untuk mengetahui kecenderungan tipe karakter. Sehingga kita dapat mengetahui apa yang harus kita persiapkan ketika kita menerima sebuah realita. Yang terpenting ialah tetaplah jujur dalam memperkenalkan diri kita dan mau belajar ketika mendapat sebuah kepercayaan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 Pemuda, Katakan inilah saya !
Karya  : Zulfi Alia Izzati

Kala sunyi
Ku coba merenung diri
Menatap pertiwi tengah bersedih hati
Inilah yang ku rasa
Hiruk pikuk Indonesia
Kaum asing merajalela
Korupsi menjamur menjadi budaya
Calon generasi bangsa berfoya-foya,
Melupakan adat dan norma
Dekadensi moral serasa tiada aral
Anak-anak dibawah usia,
Tak terlindung lagi jiwa raganya
Di saat hidup semakin sulit
Kabut asap membumbung tinggi menguasai langit
Tuk bernafas betapa sulit
Pilu hati kian membelit
Ketika belia berparas cantik
Terkulai diantara pekatnya kabut
Mengukir memori pahit
dan
Hanya batin mereka yang menjerit

Indonesia
Bhineka Tunggal Ika begitulah semboyannya
Katanya kita sudah merdeka
Tapi tawuran tak pernah jeda
Hidup sejahtera hanyalah wacana
Menggebu-gebu orasi calon pemimpin kita
Mengumbar janji, menebar asa
Gegap gempita demo rakyat kita
Haruskah kita selalu berlawanan arah
Menghujat yang tua, meremehkan yang muda
Tiada sepakat kata tuk jalan seirama
Perbaiki jati diri bangsa
Tiadakah malu wahai para pemuda?
Mungkinkah hanya aku yang malu jadi pemuda Indonesia?

Indonesia
Negeriku tercinta
Aku tak mau sekedar menuntut
Aku tak mau sekedar mengikut
Kini ku coba berlari menjemput asa yang terhenti
Merobek tirai reformasi
Berbekal diri anti korupsi dan gratifikasi
Mengusung cita mulia bangsa ini
Meski letih jiwa raga ini aku kan tetap mengabdi
Jika bukan aku, siapa lagi?

Indonesia
Semangat berkobar didalam jiwa
Kan ku kibarkan sang merah putih disetiap sudut dunia
Tuk menjaga martabat bangsa menuju peradaban jaya
اِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَا أَنَذَا
وَ لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ اَبِى
Sungguh seorang pemuda yang berkata inilah saya !
Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan inilah bapak saya
Pemuda, katakan inilah saya !


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Aku terjatuh dan berusaha bangkit lagi, ini belum berAkhir !" inilah jargon yang aku ingat untuk titik jenuhku atas penyakit yang sempat menghinggap ditubuhku. Sudah cukup lama tepatnya, kini perlahan kesakitanku mulai sirna. Alhamdulillah, I wanna thank You, My Allah ^_^
Hal yang tak bisa ku lupakan ialah ketika kesehatanku cukup membaik untuk menopang tugas-tugasku kuliah ditanah rantau, meskipun belum total penyembuhan. Aku akan merasa sakit ketika aku harus meringik dihadapan mamah dan abah. Sungguh, air mataku memilukanku. CUKUP ! (batinku menggema)
CUKUP, aku melihat ini. Dan kuputuskan hari itu aku berusaha tegar berangkat ke tanah rantauku tempat mencari ilmu. 
Selepas ke pergianku, ya ! hp genggamku, dering telfon, dan suara mereka tak pernah absen dari pendengaranku. Sampai pada titik dimana mamah menceritakan kejadian dirumah, "Pi, kemarin tepat sehari setelah kau pergi, temen mamah Ibu Lastri dan keluarga menjenguk mu, tapi kamu tidak ada. Oh iya, ini uang hasil jengukan mu banyak sekali hampir 1 juta".. :) "Wah kasihan sekali ibu lastri ya mah. oh uangnya disimpan saja mah barangkali mamah perlu". (balas ku). Sungguh aku menitikan air mata, bantinku terucap "Yaa Allah, Terimakasih disaat aku rapuh dan terjatuh aku masih bisa membawa berkah untuk Orang tua ku", air itu semakin deras dan menjadi-jadi ketika aku mengingat status sosial media ku yang tak pantas aku unggah, statusku itu diluar kendali. Hari-hariku dikelilingi tentang kematian. Aku JENUH OBAT !, dari rumah sakit satu-kerumah sakit lainnya, dari kimia sampai tradisional. Aku semakin down ketika aku mencari tugas kliping dikoran, aku mendapati dua koran yang menyatakan satu orang bunuh diri karena penyakitnya yang tak kunjung sembuh dan satu orang dikorang yang berbeda meninggal karena terserang penyakitku yang lainnya", aku makin tak berdanya ditambah rambutku yang mulai rontok dan selalu mengeluarkan darah. Mamah, mamah dan adekku alina dia yang selalu berkomunikasi denganku bahwa aku harus TEGAR, TEGAR menjalani hidup ini !, kucoba rajinkan sembahyangku wajib-sunah dan memenuhi kebutuhan ruhaniahku. hingga aku mempunyai HARAPAN untuk KEMBALI sehat. Kini, aku berusaha menerima rasa sakitku, mengenali dan memahaminya.
" Terimakasih Allah, kau turunkan malaikat-malaikat untuk ku, untuk mengajariku makna Syukur"
(Jangan pernah tersungkur dari rasa syukur meski yang kau inginkan terkubur, GALILAH ! maka kau akan mendapatkan yang kau inginkan, Jangan pernah takut dengan Janji-Nya.Sungguh Allah membalas usaha hamba-Nya)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kali ini aku dibuat kepayang
Oleh kaki ini yg melangkah bimbang
Seakan tidak ada campur tangan otak tuk mengekang..

Senja ini..
ya Hari ini..

Aku berjalan dengan khidmat
menikmati alunan hati dan dentingan  kewajiban yang melekat
Cahya senja pun merapat hangat

Sendiri..
benar-benar sendiri..
Aku menikmati senja ini..
Kulewati gedung-gedung tinggi..
Lalu-lalang tronton yang memekakan telinga kiri
Serta gemerlap lampu apillin yang warna-wari..

Berawal dari sepetak harapan seorang balada (kos)
Maskam dengan ornamen slamat datangnya
Social Agency Buku dengan aneka ragamnya
Trotoar dengan daun musim seminya
Asrama dengan kumpulan bidadarinya
Hingga angkringan yang menghilangkan dahaga..

aaah kali ini
Aku benar-benar sendiri..
Hanya langkah kaki
serta penjagaan Allahu Rabbi..

Sejenak,
Aku tersadar dari lamunan ini :
(dalam hati)
"Terkadang diri ini merasa sendiri ditengah keramaian, merasa damai dikala sendirian. Selain keadaan ini, ada kalanya jiwa ini
meminta sejenak waktu kita untuk bersahabat dengan diri kita sendiri, menyepi dan menyendiri"

Mengevaluasi diri (muhasabah) inilah kiranya hal yang perlu kita lakukan untuk jajak pengenalan jati diri.

"Mengenal orang lain dengan sebetul-betulnya adalah kebaikan, Sungguh akan sangat baik ketika kita dapat memahami diri kita". (Quote senja ini )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

Zulfialia
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

  • Facebook
  • Instagram
  • Path
  • Twitter

Laman

  • BERANDA
  • CERITA
  • ESSAY
  • OPINI
  • SAJAK

recent posts

Visitors

Flag Counter

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Surat Untuk Februari
  • ►  2017 (7)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2016 (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2014 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates