Romansa Sudut Jogja



"Siapa yang selalu melihat rembulan selalu ditemani oleh bintang disetiap malam ?", aku bertanya kepada kalian semua.
Aku selalu suka malam. Ketika langit diatas sana mendung, seringkali bintang tak menjumpai rembulan. Aku tak pernah tau alasan bintang yang suka mengumpat dibelakang awan.
Padahal rembulan tak pernah lelah untuk menunggu bintang membersamainya. Meski ia harus mengalami fase-fase perubahan dari bulan baru, bulan sabit, maupun bulan purnama. Ia tetap saja berotasi mengelilingi bumi. Memancarakan radar cahaya untuk menghibur hati pujangga yang sepi.
Malam ini, rembulan perlahan ditutupi awan hitam pekat. Hampir sisi-sisi yang memancarkan cahayanya tak mampu dipandang lagi. Lantas apakah ini laksana perumapamaan sebuah kepercayaan yang dinodai dengan kenistaan? . Melihatnya pun aku sakit, entahlah !

Tenang kawan, ini hanya sekedar sangkaan. Bisa jadi yang aku maksudkan tidak benar, bintang tak pernah mendustakan rembulan. Barangkali pertemuan antara rembulan dan bintang adalah keenganan untuk hujan, yang selalu memisahkan mereka dalam bingkai malam. Karena cinta bintang dan rembulan adalah cinta yang penuh dengan perlawanan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hal yang paling memalukan ialah bertatap dengan sesama ciptaan-Nya tapi aku tak banyak bermanfaat bagi sesama..
Rasanya payau ketika aku memaksakan diri seperti matahari, yang diawal pagi memberikan 'harapan', bagi tiap insan dalam benaknya.. Begitu pula dipenghujung hari ia elok sekali, mengubah paradigma perpisaan dengan keindahan senja yg melihatnya pun mengisakkan kerinduan.. Entalah kerinduan kepada siapa! !
Lantas, bergegas tanpa basa-basi, dengan teratur ia menjauh-menenggelamkan diri, seakan ada tangga yg ia naiki, 1..2..3..4.. irama itu terasa.. membius insan yg ditinggalkan. Detik inilah yang menjadi teriakan insan membumbung tinggi kelangit "aaahh!" begitulah kiranya, mengisyaratkan penyesalan yg dalam. Rasanya memang tak mau berpisah, apalah daya pertemuan ialah tali-kasih perpisahan.
.
Jujur!! Aku belum mampu (rasanya gagap mengatakan ini).
.
Sungguh!
Aku belum mampu laksana Matahari yang sinarnya mampu menelisik keseluruh penjuru negeri, tanpa pamrih ia menghangatkan tanpa mengutamakan perbedaan. Ketika ia tak diizinkan Tuhan untuk menyapa dunia, ia menghapus kekecewaan insan dengan hujan..
.
Aku hanya bisa menunduk, merenungi diri yg masih tertatih menuju surgawi.
.
.
Ah benar-benar.. aku suka pertunjukan matahari diawal dan penghujung hari~
26/08/16
-Romansa Sudut Jogja-
"Aku Malu"
yg ku rindukan, Mushola lt.2 FITK :)
Taken by @deean_VK
#zulfisshstory
#senjastory
#romansasudutjogja
#UINSUKAstory


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Wanita ibarat kaca yg berdebu.
Jangan terlalu kuat membersihkannya.
Lemah lembutlah kepadanya, tapi jangan terlalu memanjakannya..
Tegurlah jika ia bersalah, tapi jangan kau lukai hatinya.
.
.
.
.
Begitu mulianya wanita dalam pandangan Islam, semoga ia (red : wanita) selalu bisa menjaga izzah dan marwahnya.. ^^ meski begitu wanita butuh lingkungan yg bisa mengingatkan ketika ia lalai dan memberikan support atas keputusan yg ia ambil. Ia tidak bisa berdiri sendiri !! Yuks mari teman-teman mulai sekarang saling menegur tanpa kata "sungkan" untuk kebaikan.

22/08/16
-Senja Jogja-

Taken by @erkana
Camera from @deean_VK

#zulfisshstory
#jogjastory
#yukshijarahbareng
#akhwattangguh
#ootdjogja
#haaanadza


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Semoga Allah selalu mengizinkan kita untuk bisa mengambil hikmah disetiap kekecewaan, meskipun sedikit!
"Romansa sudut jogja"
Dengkuran sungai gajah wong.
Jogja, 25/7/2016
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kamu pasti tau, kesyahduan ketika pertengahan menjelang bergantinya bulan dengan matahari. Yap benar, Malam !! Aku selalu suka malam, ketika sebagian jiwa-jiwa didunia ini telah terbius dengan kepekatannya. Mengarungi wahana mimpi yang bebas tak terbatas. Sunyiii.. benar-benar sunyi, hingga denting jarum dom yang biasa dipakai ibu tuk merajut kain yang usang, jatuh diantara sela-sela keramik mampu terdengar bak suara jeritan. Tapi sayang sekarang ibu tak bersamaku.
Ah memang sudah biasa ketika kamu membaca tulisan yang mengulas keromantisan malam. Biarlah, aku tak peduli !! Barangkali ini tulisanku seperti judul buku karya Deassy destiani, "Bukan untuk dibaca". Sudahlah,biarkan aku menulis karena sekarang aku tak ingin membahas itu.
Kau tau, malam ini spesial. Langkah jemariku diatas keyboard ditemani dengan luruhnya hujan. Duh sungguh, sangat mendamaikan, bau tanah itu aku kenal sekali, ia memiliki aroma khas, seakan aku terbawa ke memori antara hujan dan aku saja.
Berbisik dibenakku, mengingat halaman berapa buku yang aku baca "Hujan bulan juni" oleh Sapardi Djoko Damono, yang membuatku gemas dengan pertanyaan yang sama. Menurut teori, bulan juni termasuk musim kemarau, jadi hujan tak akan datang menyirami bumi ini. Jika begitu, aku harus mampu untuk menahan rinduku bersua dengan gerimis yang romantis, tapi kali ini hujan itu, gerimis itu, seakan memberi harapan yang telah terpendam dan berusaha aku sirnakan. Kau tau, harapan itu tumbuh.
Sayangnya tidak tumbuh dengan baik-tidak lebih dari 5 menit hujan itu kembali pergi seakan tak berdosa meninggalkan perasaan yang baru berbunga, menghanyutkan segala asa yang mulai ada. Kemudian perlukah aku berharap hujan kembali? aku tak sudi jika begini!
-Dengkuran Malam-
Sepucuk romansa sudut jogja
23/06/2016
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Berdiskusi dengan buku !
Ia, terlihat membosankan dan menjenuhkan. Padahal ia memiliki sifat adiktif yang memberikan sensasi ketagihan ketika seseorang mulai menjamah lembaran-lembaranya. Huruf demi huruf, mengindikasikan kedalaman hati penulis. Sedangkan isinya ialah cara terbaik penulis untuk mendiskusikan pemikiranya dengan pembaca. Ah sungguh! disisi itu, ia selalu mengusik kesenyapan dan kehampaan. Seakan-akan, pemeran-pemeran dalam buku menjelma hidup disekeliling kita. Ah.. lagi-lagi aku tertawan dan tergoda untuk menyelesaikan bagian akhirnya, rasanya ada kepuasan sendiri ketika aku bisa bernostalgia dengan alur cerita yang seringkali perah kita rasa. Ah!! benar-benar aku jatuh cinta, dengan ia yang menasehatiku tanpa menggurui, ia yang menjadi teman dalam kehampaan. Ia penggenggam ilmu yang mulai terlupakan waktu demi waktu. Ia ialah Buku.

22/06/2016
-Romansa Sudut Jogja-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 Pemuda, Katakan inilah saya !
Karya  : Zulfi Alia Izzati

Kala sunyi
Ku coba merenung diri
Menatap pertiwi tengah bersedih hati
Inilah yang ku rasa
Hiruk pikuk Indonesia
Kaum asing merajalela
Korupsi menjamur menjadi budaya
Calon generasi bangsa berfoya-foya,
Melupakan adat dan norma
Dekadensi moral serasa tiada aral
Anak-anak dibawah usia,
Tak terlindung lagi jiwa raganya
Di saat hidup semakin sulit
Kabut asap membumbung tinggi menguasai langit
Tuk bernafas betapa sulit
Pilu hati kian membelit
Ketika belia berparas cantik
Terkulai diantara pekatnya kabut
Mengukir memori pahit
dan
Hanya batin mereka yang menjerit

Indonesia
Bhineka Tunggal Ika begitulah semboyannya
Katanya kita sudah merdeka
Tapi tawuran tak pernah jeda
Hidup sejahtera hanyalah wacana
Menggebu-gebu orasi calon pemimpin kita
Mengumbar janji, menebar asa
Gegap gempita demo rakyat kita
Haruskah kita selalu berlawanan arah
Menghujat yang tua, meremehkan yang muda
Tiada sepakat kata tuk jalan seirama
Perbaiki jati diri bangsa
Tiadakah malu wahai para pemuda?
Mungkinkah hanya aku yang malu jadi pemuda Indonesia?

Indonesia
Negeriku tercinta
Aku tak mau sekedar menuntut
Aku tak mau sekedar mengikut
Kini ku coba berlari menjemput asa yang terhenti
Merobek tirai reformasi
Berbekal diri anti korupsi dan gratifikasi
Mengusung cita mulia bangsa ini
Meski letih jiwa raga ini aku kan tetap mengabdi
Jika bukan aku, siapa lagi?

Indonesia
Semangat berkobar didalam jiwa
Kan ku kibarkan sang merah putih disetiap sudut dunia
Tuk menjaga martabat bangsa menuju peradaban jaya
اِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَا أَنَذَا
وَ لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ اَبِى
Sungguh seorang pemuda yang berkata inilah saya !
Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan inilah bapak saya
Pemuda, katakan inilah saya !


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kali ini aku dibuat kepayang
Oleh kaki ini yg melangkah bimbang
Seakan tidak ada campur tangan otak tuk mengekang..

Senja ini..
ya Hari ini..

Aku berjalan dengan khidmat
menikmati alunan hati dan dentingan  kewajiban yang melekat
Cahya senja pun merapat hangat

Sendiri..
benar-benar sendiri..
Aku menikmati senja ini..
Kulewati gedung-gedung tinggi..
Lalu-lalang tronton yang memekakan telinga kiri
Serta gemerlap lampu apillin yang warna-wari..

Berawal dari sepetak harapan seorang balada (kos)
Maskam dengan ornamen slamat datangnya
Social Agency Buku dengan aneka ragamnya
Trotoar dengan daun musim seminya
Asrama dengan kumpulan bidadarinya
Hingga angkringan yang menghilangkan dahaga..

aaah kali ini
Aku benar-benar sendiri..
Hanya langkah kaki
serta penjagaan Allahu Rabbi..

Sejenak,
Aku tersadar dari lamunan ini :
(dalam hati)
"Terkadang diri ini merasa sendiri ditengah keramaian, merasa damai dikala sendirian. Selain keadaan ini, ada kalanya jiwa ini
meminta sejenak waktu kita untuk bersahabat dengan diri kita sendiri, menyepi dan menyendiri"

Mengevaluasi diri (muhasabah) inilah kiranya hal yang perlu kita lakukan untuk jajak pengenalan jati diri.

"Mengenal orang lain dengan sebetul-betulnya adalah kebaikan, Sungguh akan sangat baik ketika kita dapat memahami diri kita". (Quote senja ini )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About Me

Zulfialia
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

  • Facebook
  • Instagram
  • Path
  • Twitter

Laman

  • BERANDA
  • CERITA
  • ESSAY
  • OPINI
  • SAJAK

recent posts

Visitors

Flag Counter

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Surat Untuk Februari
  • ►  2017 (7)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2016 (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2014 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates