Romansa Sudut Jogja

 Pemuda, Katakan inilah saya !
Karya  : Zulfi Alia Izzati

Kala sunyi
Ku coba merenung diri
Menatap pertiwi tengah bersedih hati
Inilah yang ku rasa
Hiruk pikuk Indonesia
Kaum asing merajalela
Korupsi menjamur menjadi budaya
Calon generasi bangsa berfoya-foya,
Melupakan adat dan norma
Dekadensi moral serasa tiada aral
Anak-anak dibawah usia,
Tak terlindung lagi jiwa raganya
Di saat hidup semakin sulit
Kabut asap membumbung tinggi menguasai langit
Tuk bernafas betapa sulit
Pilu hati kian membelit
Ketika belia berparas cantik
Terkulai diantara pekatnya kabut
Mengukir memori pahit
dan
Hanya batin mereka yang menjerit

Indonesia
Bhineka Tunggal Ika begitulah semboyannya
Katanya kita sudah merdeka
Tapi tawuran tak pernah jeda
Hidup sejahtera hanyalah wacana
Menggebu-gebu orasi calon pemimpin kita
Mengumbar janji, menebar asa
Gegap gempita demo rakyat kita
Haruskah kita selalu berlawanan arah
Menghujat yang tua, meremehkan yang muda
Tiada sepakat kata tuk jalan seirama
Perbaiki jati diri bangsa
Tiadakah malu wahai para pemuda?
Mungkinkah hanya aku yang malu jadi pemuda Indonesia?

Indonesia
Negeriku tercinta
Aku tak mau sekedar menuntut
Aku tak mau sekedar mengikut
Kini ku coba berlari menjemput asa yang terhenti
Merobek tirai reformasi
Berbekal diri anti korupsi dan gratifikasi
Mengusung cita mulia bangsa ini
Meski letih jiwa raga ini aku kan tetap mengabdi
Jika bukan aku, siapa lagi?

Indonesia
Semangat berkobar didalam jiwa
Kan ku kibarkan sang merah putih disetiap sudut dunia
Tuk menjaga martabat bangsa menuju peradaban jaya
اِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَا أَنَذَا
وَ لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ اَبِى
Sungguh seorang pemuda yang berkata inilah saya !
Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan inilah bapak saya
Pemuda, katakan inilah saya !


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Aku terjatuh dan berusaha bangkit lagi, ini belum berAkhir !" inilah jargon yang aku ingat untuk titik jenuhku atas penyakit yang sempat menghinggap ditubuhku. Sudah cukup lama tepatnya, kini perlahan kesakitanku mulai sirna. Alhamdulillah, I wanna thank You, My Allah ^_^
Hal yang tak bisa ku lupakan ialah ketika kesehatanku cukup membaik untuk menopang tugas-tugasku kuliah ditanah rantau, meskipun belum total penyembuhan. Aku akan merasa sakit ketika aku harus meringik dihadapan mamah dan abah. Sungguh, air mataku memilukanku. CUKUP ! (batinku menggema)
CUKUP, aku melihat ini. Dan kuputuskan hari itu aku berusaha tegar berangkat ke tanah rantauku tempat mencari ilmu. 
Selepas ke pergianku, ya ! hp genggamku, dering telfon, dan suara mereka tak pernah absen dari pendengaranku. Sampai pada titik dimana mamah menceritakan kejadian dirumah, "Pi, kemarin tepat sehari setelah kau pergi, temen mamah Ibu Lastri dan keluarga menjenguk mu, tapi kamu tidak ada. Oh iya, ini uang hasil jengukan mu banyak sekali hampir 1 juta".. :) "Wah kasihan sekali ibu lastri ya mah. oh uangnya disimpan saja mah barangkali mamah perlu". (balas ku). Sungguh aku menitikan air mata, bantinku terucap "Yaa Allah, Terimakasih disaat aku rapuh dan terjatuh aku masih bisa membawa berkah untuk Orang tua ku", air itu semakin deras dan menjadi-jadi ketika aku mengingat status sosial media ku yang tak pantas aku unggah, statusku itu diluar kendali. Hari-hariku dikelilingi tentang kematian. Aku JENUH OBAT !, dari rumah sakit satu-kerumah sakit lainnya, dari kimia sampai tradisional. Aku semakin down ketika aku mencari tugas kliping dikoran, aku mendapati dua koran yang menyatakan satu orang bunuh diri karena penyakitnya yang tak kunjung sembuh dan satu orang dikorang yang berbeda meninggal karena terserang penyakitku yang lainnya", aku makin tak berdanya ditambah rambutku yang mulai rontok dan selalu mengeluarkan darah. Mamah, mamah dan adekku alina dia yang selalu berkomunikasi denganku bahwa aku harus TEGAR, TEGAR menjalani hidup ini !, kucoba rajinkan sembahyangku wajib-sunah dan memenuhi kebutuhan ruhaniahku. hingga aku mempunyai HARAPAN untuk KEMBALI sehat. Kini, aku berusaha menerima rasa sakitku, mengenali dan memahaminya.
" Terimakasih Allah, kau turunkan malaikat-malaikat untuk ku, untuk mengajariku makna Syukur"
(Jangan pernah tersungkur dari rasa syukur meski yang kau inginkan terkubur, GALILAH ! maka kau akan mendapatkan yang kau inginkan, Jangan pernah takut dengan Janji-Nya.Sungguh Allah membalas usaha hamba-Nya)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

Zulfialia
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

  • Facebook
  • Instagram
  • Path
  • Twitter

Laman

  • BERANDA
  • CERITA
  • ESSAY
  • OPINI
  • SAJAK

recent posts

Visitors

Flag Counter

Blog Archive

  • ►  2018 (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2016 (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Maret (2)
  • ▼  2015 (2)
    • ▼  November (1)
      • Pemuda, Katakan inilah saya !
    • ►  Maret (1)
      • #Maret Berkah
  • ►  2014 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates